DaisypathNext Anniversary Ticker

June 27, 2009

Genap 7 Tahun Usia Anakku...!!!

Alhamdulillah.....Farrell hari ini bertambah usianya. Sebagai ibu saya teramat bangga, dan bahagia melihat segala perkembangannya. Doa saya mungkin sama seperti ibu-ibu yang lain, menginginkan dia menjadi anak yang soleh, mandiri, dan berguna bagi agama, keluarga dan bangsa.


Tidak ada perayaan sama sekali yang saya adakan, hanya tadi pagi saat Farrell bangun saya langsung mencium dan memeluknya seraya berdoa " Ya.... Allah, panjangkanlah umurku untuk bisa melihat anak-anakku besar, berilah aku ilmu sehingga bisa menjadi ibu yang baik bagi mereka, semoga anak-anakku Engkau beri keistimewaan yang bisa bermanfaat bagi agama, keluarga dan masyarakat. Amin...!!!

Menjadi seorang ibu adalah pengalaman dan pembelajaran yang tidak pernah akan terulang dalam kehidupan kita karena setiap anak yang kita miliki tidak pernah akan sama. Maka nikmatilah selagi bisa.....

June 4, 2009

Sekolah untuk anak atau mamanya ya....?

Minggu lalu saya berkunjung ke sekolah Feldy, playgroup griya Ananda. Berkunjung ke sekolah Feldy memang jarang sekali saya lakukan....apa karena dia anak kedua ya? (perhatiaan saya tidak seperti saat kakaknya sekolah). Feldy memang sangat mandiri, dia sudah bisa memakai baju sendiri sejak usia 3 tahun, semua kegiatan seperti mandi, makan, dan lain-lain biasanya tidak mau dibantu oleh orang lain. Nah, pagi itu Feldy dengan manjanya meminta saya untuk menjemputnya di sekolah. "Ma, nanti aku dijemput ya.....! katanya sebelum saya berangkat ke kantor. Lalu sayapun menyanggupi sambil mencium keningnya. Jam 11 siang saya langsung meluncur ke sekolah Feldy menggunakan motor honda tua kesayangan saya. Sesampai di sana, saya masuk dengan hati-hati agar Feldy tidak melihat saya. Sengaja ini saya lakukan agar Feldy tidak mengalihkan perhatiannya karena dia kelihatan begitu sibuk mengerjakan tugas mewarnai yang ditugaskan gurunya. Karena duduk dipojokan saya dapat melihat semua aktifitas di dalam kelas pada waktu itu. Hampir semua anak-anak balita ini ditemani oleh orang dewasa, ada yang ditemani ibunya, pengasuhnya atau neneknya. Tiba-tiba perhatian saya teralih pada seorang anak kecil berkulit putih dan berwajah tampan dengan ibunya yang cantik. Ibu ini terus memarahi anaknya jika anaknya melakukan kesalahan dalam mewarnai gambar. "Ayo...A, jangan keluar garis kalau mewarnai. "Loh, kenapa seperti ini? Cepat....dong! (diselingi cubitan kecil) Sini biar mama aja.... Nah, cepat kasih ke bu guru...! Lalu si A ini dengan langkah kecilnya berlari menuju bu guru. Adalagi yang tidak sabar sampai ibunya langsung merebut crayon anaknya dan asyik mewarnai.

Saya tersenyum dalam hati yang menimbulkan pertanyaan, sebenarnya yang bersekolah ini siapa? Anaknya atau ibunya? Sebagai orang tua terkadang kita membuat harapan yang sangat tinggi pada anak-anak kita. Inilah yang membuat setiap orang tua berkompetisi dan saling membandingkan. Kita lupa bahwa anak-anakpun memiliki cara tersendiri dalam belajar dan menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. Pengalaman saya saat memiliki anak pertamapun demikian. Membandingkan dia dengan anak lain, memaksa dia untuk memiliki kemampuan yang sama dengan orang lain. Pelajaran ini saya ambil dan menjadi ilmu yang tidak akan saya lupakan disaat saya melahirkan Feldy.

Percayalah, anak-anak kita mampu untuk belajar dan akan berhasil mengatasi masalah yang mereka hadapi. Dampingi mereka, temani mereka tapi biarlah mereka mewarnai dunia mereka dengan warna-warna yang mereka pilih dan sukai.....!! (dari saya yang terus belajar....)

May 21, 2009

Pembelajaran Seorang Anak Kepada Ibunya

Hari ini saya menyaksikan satu hobi baru Farrell yaitu memotret. Hampir semua kegiatan yang ada di acara End Year Party hari ini, diabadikan olehnya. Bahkan Farrell lebih luwes dari saya, mungkin karena dia adalah seorang anak kecil maka orang-orang yang dewasa disekitarnya tidak malu untuk meminta dipotret..... Ada yang minta dipotret bareng istrinya (coba kalo saya yang pegang kamera bisa dipastikan suami istri malu2 akan sungkan jika meminta diabadikan). Walaupun deg-degan karena saya khawatir jika kamera itu jatuh atau kecebur air, tetapi saya mencoba untuk membiarkannya berekspresi dengan mainan barunya. Mungkin hobi memotret ini menarik minatnya karena saya memang akhir-akhir ini suka memotret. Tanpa saya sadari, Farrell ikut belajar saat saya melihat saya memotret objek yang menarik hati. Senang tentu saja, ternyata dia bisa belajar melalui kebiasaan yang saya lakukan.

Lalu timbul pertanyaan di dalam diri saya, apakah ada hubungannya hobi anak dengan hobi orang tua. Bahkan ini bisa juga menyangkut hal lain yang lebih luas. Kita sudah tidak asing jika mendengar seorang penyanyi yang mempunyai orang tua juga penyanyi atau lainnya. Bila kebiasaan baik tentu saja tidak ada salahnya tetapi bagaimana jika ini kebiasaan yang buruk....apabila benar ada hubungannya berarti saya harus lebih berhati-hati karena tidak saya pungkiri bahwa sayapun mempunyai kebiasaan buruk yang belum bisa saya hilangkan sampai saat ini.

Ternyata saya adalah cermin terdekat yang dilihat oleh Farrell dan Feldy, semoga semua kebaikan yang ada dalam diri saya bisa menular kepada mereka dan semua keburukan yang ada pada diri saya dijauhkan dari mereka.... Dan saya menjadi lebih baik dengan bercermin pada mereka....Amin

April 30, 2009

Kartini dan Kesadaran Berbahasa

Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 19 April 2009
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Oleh Wildan Nugraha

LEPAS dari sosoknya yang bagi sementara pihak sangat lekat dengan kepentingan politik etis Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, kesadaran berbahasa Kartini agaknya menjadi salah satu faktor yang membuatnya terus dikenang. Tanggal ulang tahunnya, 21 April, di negeri ini identik dengan namanya; nama seorang perempuan ningrat yang lahir di Jepara pada 1879.

Dalam salah satu suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan bahwa selain bahasa Belanda yang sudah dikuasainya, dia pun ingin pula mahir berbahasa asing lainnya, yakni bahasa Prancis, Inggris, dan Jerman. Bukan karena agar pandai bercakap-cakap dalam bahasa itu, melainkan supaya dapat membaca buah pikiran penulis-penulisnya.

Antara lain lewat kesadaran berbahasa itulah Kartini menemukan ketidakberesan dalam masyarakatnya. Meski dikungkung adat, mata Kartini lebar terbuka melihat dunia luas di luar Jepara, teristimewa kepada dunia Barat, dan hal itu menyuburkan daya kritis dalam nuraninya. "Adat sopan santun orang Jawa amat sukar," ujar (Raden Ajeng) Kartini kepada Stella dalam surat bertanggal 18 Agustus 1899.

Tentang feodalisme yang sangat mengakar di lingkungannya Kartini menggambarkan, misal, bila adiknya sedang duduk di kursi dan dia berjalan melewatinya, maka sampai kakaknya berlalu sang adik harus turun duduk di tanah sambil menundukkan kepalanya. Sementara, seorang gadis Jawa yang baik jalannya harus perlahan-lahan dengan langkah yang pendek-pendek seperti siput layaknya. Lalu dalam hal berbahasa pun, Kartini menyadari bahwa bahasa yang bertingkat-tingkat di lingkungannya itu menghadirkan sekat-sekat kemanusiaan: seseorang akan "berdosa" bila memakai bahasa Jawa rendah (ngoko) kepada sembarang orang.

Akan tetapi, Kartini bukan seorang "radikal". Dia tidak lantas membenci kejawaannya. "Boleh jadi seluruh badan kami sudah dijiwai pikiran dan perasaan Eropa; tetapi, darah, darah Jawa yang hidup dan mengalir hangat dalam tubuh kami ini, sekali-kali tidak dapat dihilangkan. Kami merasainya pada harum kemenyan dan semerbak bunga, pada lagu-lagu gamelan, pada irama angin ketika meresak pucuk-pucuk pohon kelapa, pada dekut perkutut, pada waktu batang padi bersiul, saat lesung padi berdentung-dentung, " ungkap Kartini dalam satu suratnya kepada Rosa Manuela Abendanon. Pun, Kartini menghargai orang tua dan kakak-kakaknya dengan menuruti semua adat Jawa dengan tertib. Tapi sebagai sebentuk perlawanan, kata Kartini kepada Stella, "Mulai dari aku ke bawah, kami langgar seluruhnya adat itu."

Salah satu hal yang ditekankan Kartini adalah mengenai pencerahan akal budi, sebuah inti dari pemikiran modern yang tengah berkembang di Eropa pada masa itu, yang membayang kuat di benak Kartini. "Kemajuan peradaban," katanya kepada Nyonya Ovink-Soer, "didapat bila kecerdasan pikiran dan kecerdasan budi sama-sama dimajukan." Lantas, soal mempertinggi derajat budi manusia, Kartini kerap menyoal ihwal kesadarannya dalam berkeyakinan.

Kepada Stella dalam suratnya bertanggal 6 November 1899, misalnya---dan terbaca juga dalam surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon--- Kartini melihat bahwa kepada masyarakat di tempatnya keteguhan taklid lebih kuat ditanamkan ketimbang keteguhan yang dilandasi kesadaran. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai keyakinannya bila tidak mengenalnya, ungkapnya. "Orang-orang di sini diajarkan membacanya, tapi tidak diajarkan maknanya," katanya. "Pikirku, itu pekerjaan gila." Banyak lagi Kartni menuliskan kegundahannya mengenai realitas di sekelilingnya yang dengan tersirat dia sandarkan kepada keyakinannya. "Papa orang yang tidak dapat mengerti, bahwa kecuali ada keluhuran dalam derajat dan pangkat, masih ada keluhuran lain yang meniadakan segala-galanya, " tulisnya kepada Nyonya Abendanon, 13 Agustus 1900.

Kesadaran berbahasa memang merupakan sesuatu yang penting. Dalam hal Kartini, kesadaran ini tak bisa dilepaskan dari kebiasaannya berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya. Mungkin kita bisa menganggap semua peristiwa yang dialami seseorang sebagai peristiwa yang acak; dan kebiasaan menulis sebagai salah sebuah upaya merefleksikan peristiwa-peristiwa acak tersebut. Mengutip Bambang Sugiharto (1996), bahasa dapat membantu memperdalam peristiwa-peristiwa acak seseorang lewat refleksi dan dengan mengangkat segala hal partikular ke taraf konsep yang bersifat umum. Deskripsi membantu agar pengalaman menemukan bentuknya; dia dapat mengangkat makna tersembunyi di dalam input indrawi yang acak-acakan saat seseorang mengalami sesuatu peristiwa, dan dengan begitu deskripsilah yang menjadikan seseorang memahami pengalaman, atau yang membuat segala peristiwa acak menjadi "pengalaman" .

Bambang Sugiharto mencontohkan, misalnya, pengalaman membaca buku bisa berubah banyak manakala seseorang harus membuat ulasan tentangnya. Tulisan ulasan yang dibuat itu dengan sendirinya akan mengintensifkan pengalaman membaca dengan mengangkatnya ke taraf refleksi. Maka Kartini, bila demikian, dengan surat-suratnya yang luar biasa dia kerjakan, setidaknya jika betul selama empat atau lima tahun terakhir masa hidupnya---dia wafat dalam usia 25 pada 17 September 1904---seakan tidak berhenti melakukan refleksi atas "peristiwa-peristiw a acak" yang didapatkannya sehari-hari.

Gagasan-gagasan kritis Kartini, terutama tentang pentingnya pendidikan, posisi sentral kaum perempuan dalam masyarakat yang beradab, dan nilai-nilai filosofis transendental didapatkan dari kekayaan pergaulan dan bacaannya; hal yang mungkin sukar dia peroleh bila tidak disokong oleh kesadarannya dalam berbahasa. "Bahasa adalah rumah tempat tinggal sang Ada," kata Martin Heidegger (1889-1976). Bila benar, demikian sahut Bambang Sugiharto, maka bahasa adalah rumah bagi pengalaman-pengalam an yang bermakna. Pengalaman yang telah diungkapkan adalah pengalaman yang telah mengkristal, menjadi semacam "substansi" tertentu. Dengan kata lain, pengalaman itu tidak bermakna bila tidak menemukan "rumah"-nya dalam bahasa. Sebaliknya, tanpa pengalaman nyata bahasa adalah ibarat kerang yang kosong tanpa kehidupan.** *

WILDAN NUGRAHA, cerpenis bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung.

April 8, 2009

Akhirnya Menyerah.....

Sudah seminggu ini saya berjuang untuk mengatasi demam, radang tenggorokan dan kecapekan yang sudah mulai merayapi seluruh sendi di tubuh saya. Harapan saya dengan hanya mengandalkan obat batuk dan pertahanan tubuh sendiri saya bisa sembuh tanpa harus mengandalkan antibiotik. Saya memang tergolong orang yang susah sekali minum obat jika itu dalam bentuk tablet karena sudah ketakutan tidak bisa menelannya. Berbagai cara sudah pernah saya coba, dengan menggunakan pisang, minum dengan air yang manis dan lain sebagainya tetapi karena sudah faktor psikis yang berbicara maka saya jika melihat obat pasti sudah merasa mual....kalah sama anak-anak saya yang doyan sekali minum obat....hehehe

Lima hari sebelumnya saya masuk ruang emergency karena badan sudah menggigil tidak karuan, oleh dokter saya diobservasi selama dua jam dan dites darah untuk mengetahui apakah ada penyakit lain selain radang tenggorokan yang saya derita. Alhamdulillah, hasil tes darah menyatakan bahwa saya tidak mengalami penyakit lain.

Jika mau dirunut, penyebab sakit yang saya derita adalah memang mutlak kesalahan saya sendiri. Hobi saya menyantap makanan pedas, panas dan berminyak seperti bakso, cireng, makanan bersantan dan lain-lain merupakan faktor utama penyakit yang saya derita. Dokter sudah berkali-kali mengatakan bahwa tenggorokan saya sudah sangat sensitif karena rusak akibat kebiasaan makan saya tidak baik. Jadi jika daya tahan tubuh saya turun sedikit saja maka radang datang dengan segera dan tanpa ampun menyerang yang efeknya akan mengakibatkan demam dan tubuh terasa lelah. Ditambah kurangnya istirahat karena aktifitas yang cukup menyita waktu membuat tubuh saya tidak cukup untuk mempersiapkan tenaga yang saya butuhkan.

Akhirnya saya menyerah, kemarin diantar oleh suami saya meminta obat tambahan untuk mengurangi radang tenggorokan dan obat untuk tidur supaya saya bisa istirahat dengan cukup. Dokter menyarankan saya istirahat total selama 2 hari ditambah dengan libur pemilu dan libur nasional 1 hari maka saya bisa beristirahat selama 4 hari.

Selama istirahat, saya berpikir semakin bertambah usia kita maka sudah seharusnya kita lebih memperhatikan pola makan, pola istirahat dan manajemen waktu. Ketiga faktor ini jika berlebihan atau kekurangan maka akan akan berakibat fatal bagi hidup kita nantinya. Semakin lama kita mengabaikannya maka semakin besar resiko yang akan kita tanggung dikemudian hari.

Jadi mulai hari ini saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengabaikan setiap istirahat yang dikeluarkan oleh tubuh saya dan akan mengatur pola makan dan manajemen waktu dalam bekerja. Doakan agar saya cepat sembuh dan bisa memulai hari dengan janji yang baru...!!!!


Lilypie 6th to 18th Ticker
Lilypie 4th Birthday Ticker